Jumat, 22 Juli 2011

ARSITEKTUR MODERN

PENGERTIAN POSTMODERN DAN ARSITEKTUR POSTMODERN

Pengertian postmodern:
  • Arsitektur yang sudah melepaskan diri dari aturan-aturan modernisme. Tapi kedua-duanya masih eksis.
  • Anak dari Arsitektur Modern. Keduanya masih memiliki sifat/ karakter yang sama.
  • Koreksi terhadap kesalahan Arsitektur Modern. Jadi hal-hal yang benar dari Arsitektur Modern tetap dipakai.
  • Merupakan pengulangan periode 1890-1930.
  • Arsitektur yang menyatu-padukan Art dan Science, Craft dan Technology, Internasional dan Lokal. Mengakomodasikan kondisi-kondisi paradoksal dalam arsitektur.
  • Tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Arsitektur Modern.

Perubahan mendasar dalam sejarah dunia arsitektur adalah saat hadirnya arsitektur modern. Arsitektur sampai abad ke-19 dianggap sebagai seni bangunan. Reformasi pemikiran Arsitektur Modern ini mulai muncul pada abad ke-18, dimana yang dimaksud Arsitektur Modern bukan karya arsitektur, melainkan ide, gagasan, pikiran atau pengetahuan dasar tentang arsitektur. Pemikiran tersebut baru dapat direalisasikan pada pertengahan abad ke-19 dikarenakan pendidikan Arsitektur yang dibagi menjadi dua, sebagai kesenian dan sebagai ilmu teknik sipil, dan munculnya industri bahan bangunan.

Antara tahun 1890-1930 muncul berbagai macam pergerakan, antara lain : Art and Craft, Art Noveau, Ekspresionisme, Bauhaus, Amsterdam School, Rotterdam School, dll.  Periode tersebut merupakan puncak sekaligus titik awal dari arsitektur modern.

Pada tahun 1950-1960, terdapat 2 pihak yang berlawanan :
1.    Kelompok yang berpihak pada teknologi dan industrialisasi; tahun 1950 dikatakan sebagai titik puncak kejayaan Arsitektur Modern.
2.    Kelompok yang memuja estetik dan artistik; tahun 1950-an dilihat sebagai titik awal kemerosotan Arsitektur Modern.

Sekitar tahun 1960-an, pertentangan antara kedua pihak itu terjadi lagi dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang 'untuk siapa arsitektur itu diciptakan?'. Hal tersebut yang menjadi titik awal lahirnya Post Modernisme yang melawan Modernisme dengan pernyataan: Less Is Bore. Media massa juga ikut berperan dalam memicu timbulnya pluralism yang menjadi bahan dasar post modernisme.

Perbedaan karakter Modernisme dan Post Modernisme:
  1. Modernisme: singular, seragam, tunggal.
  2. Post Modernisme: plural, beraneka ragam, bhinneka.

Sebuah Gambaran tentang Post Modern         

Postmodern bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan, teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai Postmodern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa postmodern itu berarti `sehabis modern' (modern sudah usai); `setelah modern' (modern masih berlanjut tapi tidak lagi populer dan dominan); atau yang mengartikan sebagai `kelanjutan modern' (modern masih berlangsung terus, tetapi dengan melakukan penyesuaian/adaptasi dengan perkembangan dan pembaruan yang terjadi di masa kini).

Di dalam dunia arsitektur, Post Modern menunjuk pada suatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langgam, yakni langgam Postmodern. Dalam kenyataan hasil karya arsitekturnya, langgam ini muncul dalam tiga versi/sub-langgam yakni Purna Modern, Neo Modern, dan Dekonstruksi. Mengingat bahwa masing-masing pemakai dan pengikut dari sub-langgam/versi tersebut cenderung tidak peduli pada sub-langgam/versi yang lain, maka masing-masing menamakannya langgam purna-modern, langgam neo-modern dan langgam dekonstruksi.

1.       PURNA MODERN
a.      Purna Modern merupakan pengindonesiaan dari post-modern versi Charles Jencks (ingat, pengertian veris Jencks itu berbeda dari pengertian umum dari `Post Modern' yang digunakan dalam judul catatan kuliah ini)
b.      Ditandai dengan munculnya ornamen, dekorasi dan elemen-elemen kuno (dari Pra Modern) tetapi dengan melakukan transformasi atas yang kuno tadi.
c.      Menyertakan warna dan tekstur menjadi elemen arsitektur yang penting yang ikut diproses dengan bentuk dan ruang.
d.      Tokohnya antara lain: Robert Venturi, Michael Graves, Terry Farrell.

2.       NEO MODERN
a.      Dahulu diberi nama Late Modern oleh Charles Jencks, sehingga pengertiannya tetap tidak berubah.
b.      Tidak menampilkan ornamen dan dekorasi lama tetapi menojolkan Tektonika (The Art of Construction).  Arsitekturnya dimunculkan dengan memamerkan kecanggihan yang mutakhir terutama teknologi.
c.      Sepintas tidak terlihat jauh berbeda dengan Arsitektur Modern yakni menonjolkan tampilan geometri.d.       Menampilkan bentuk-bentuk tri-matra sebagai hasil dari teknik proyeksi dwi matra (misal, tampak sebagai proyeksi dari denah). Tetapi, juga menghadirkan bentukan yang trimatra yang murni (bukan sebagai proyeksi dari bentukan yang dwimatra).
d.      Tokohnya antara lain:  Richard Meier, Richard Rogers, Renzo Piano, Norman Foster.
e.      Tampilan dominan bentuk geometri.
f.            Tidak menonjolkan warna dan tekstur, mereka ini hanya ditampilkan sebagai aksen. Walaupun demikian, punya warna favorit yakni warna perak.

3.       DEKONSTRUKSI
a.      Geometri juga dominan dalam tampilan tapi yang digunakan adalah geometri 3D bukan dari hasil proyeksi 2D sehingga muncul kesan miring dan semrawut.
b.      Tokohnya antara lain: Peter Eisenman, Bernard Tschumi, Zaha Hadid, Frank O'Gehry.
c.      Menggunakan warna sebagai aksen dalam komposisi sedangkan tekstur kurang berperan.

Pokok-pokok pikiran yang dipakai arsitek Post Modern yang tampak dari ciri-ciri di atas berbeda dengan Modern. Di sini akan disebutkan tiga perbedaan penting dengan yang modern itu.

1.       Tidak memakai semboyan Form Follows Function
Arsitektur posmo mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan.
Apa yang dikomunikasikan?
Yang dikomunikasikan oleh ketiganya itu berbeda-beda, yaitu:

1)      PURNA MODERN: yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural, atau identitas historikal. Hal-hal yang ada di masa silam itu dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusian.
2)      NEO MODERN: mengkomunikasikan kemampuan teknologi dan bahan untuk berperan sebagai elemen artistik dan estetik yang dominan.
3)      DEKONSTRUKSI: yang dikomunikasikan adalah
a.       Unsur-unsur yang paling mendasar, essensial, substansial yang dimiliki oleh arsitektur.
b.      Kemampuan maksimal untuk berarsitektur dari elemen-elemen yang essensial maupun substansial.
Karena pokok-pokok pikiran itu dapat pula dikatakan bahwa:
a)         Arsitektur PURNA MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (The Past),
b)         Arsitektur NEO MODERN memiliki kepedulian yang besar kepada masa ini (The Present), sedangkan
c)         Arsitektur DEKONSTRUKSI tidak mengikatkan diri kedalam salah satu dimensi Waktu (Timelessness). Pandangan seperti ini mengakibatkan timbulnya pandangan terhadap Dekonstruksi yang berbunyi "Ini merupakan kesombongan dekonstruksi."

2.       Fungsi (bukan sebagai aktivitas atau apa yang dikerjakan oleh manusia terhadap arsitektur)
Yang dimaksud dengan `fungsi' di sini bukanlah `aktivitas', bukan pula `apa yang dikerjakan/dilakukan oleh manusia tehadap arsitektur' (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang `fungsi' yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur posmo yang dimaksud fungsi adalah peran adan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia, yang disebut manusia bukan hanya pengertian manusia sebagai mahluk yang berpikir, bekerja melakukan kegiatan, tetapi manusia sebagai makhluk yang berpikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori. Manusia bukan manusia sebagai makhluk biologis tetapi manusia sebagai pribadi.

Fungsi = apa yang dilakukan arsitektur, bukan apa yang dilakukan manusia; dan dengan demikian, 'FUNGSI bukan AKTIVITAS'
Dalam posmo, perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu :
a.      Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik melindungi nyawa maupun harta, mulai nyamuk sampai bom),
b.      Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat,
c.      Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan,
d.      Arsitektur berfungsi untuk menyadarkan manusia akan budayanya akan masa silamnya,
e.      Arsitektur memberi kesempatan pada manusia untuk bermimpi dan berkhayal,
f.            Arsitektur memberi gambaran dan kenyataan yang sejujur-jujurnya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka :
·            Dalam PURNA MODERN yang ditonjolkan didalam fungsinya itu, adalah  fungsi-fungsi metaforik (=simbolik) dan historikal.
·            NEO MODERN menunjuk pada fungsi-fungsi mimpi, yang utopi (masa depan yang sedemikian indahnya sehingga tidak bisa terbayangkan).
·            DEKONSTRUKSI menunjuk pada kejujuran yang sejujur-jujurnya.

3.       Bentuk dan Ruang
Didalam posmo, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat), keduanya menjadi 2 komponen yang mandiri, sendiri-2, merdeka, sehingga bisa dihubungkan atau tidak.
Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang.
Ciri pokok dari bentuk adalah 'ada dan nyata/terlihat/teraba', sedangkan ruang mempunyai ciri khas 'ada dan tak-terlihat/tak-nyata'. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkannya.

Berdasarkan pokok pikiran ini, maka dalam arsitektur:
a.         Purna Modern bentuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang,
b.         Neo Modern sebaliknya bertolak belakang , menempatkan ruang sebagai unsur yang dominan, sedangkan dalam
c.         Dekonstruksi tidak ada yang dominan, tidak ada yang tidak dominan, bentuk dan ruang memiliki kekuatan yang sama.                 
Arsitektur Post Modern sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an melalui karya dari Y.B Mangunwijaya. Tapi bila dilihat dari ciri visual Post Modern maka langgam ini belum cukup populer di Indonesia. Hanya beberapa buah saja yang berusaha menghadirkannya antara lain: Sonny Sutanto, Yori Antar, Sardjono Sani, dll. (Dari berbagai sumber)

MENGENAL ARSITEKTUR NEOMODERN

Gaya arsitektur Neo modern merupakan salah satu aliran arsitektur yang berkembang pada masa Post Modern, menurut Charles Jenks, Neo Modern masuk didalam Late Modern. Neo modern merupakan pelanjutan dari arsitektur modern, tetapi disini karya-karya arsitek neo modern lebih bersifat estettis, dan lebih berkembang penggunaan teknologi serta morfologi bentuknya jika dibandingkkan dengan arsitektur modern. Dimana pada arsitektur modern bangunan masih terkesan polos dan sepi ornamen, pada masa neo modern ini mulai ditambahkan, dengan pertimbangan tertentu, dan diolah sedemikian rupa.
Teknologi merupakan komponen terpenting disini, paham-paham modern mulai berusaha ditampakkan, tetapi lebih diolah lagi. Kesan dari bangunan Neo modern adalah bangunan dengan tingkat teknologi tinggi, tatapi masih rasional, dan fungsional.

MENGENAL ARSITEKTUR PURNA MODERN

Salah satu aliran Arsitektur Post Modern adalah arsitektur purna modern. Dalam arsitektur purna modern ini, ada suatu masa yang disebut modern classicism, sekitar tahun 1950-an, modernisme telah membeku menjadi sesuatu yang bersifat reduktif dalam estetika, terpecah belah, dan sangat sederhana, dalam hal pedekatan desain. Modernisme menuju kehancuran akibat kurangnya kontradiksi internalnya sendiri, namun demikian modernisme dapat juga dikatakan sukses dalam beberapa hal, dan dalam prosesnya mampu menghasilkan beberapa bangunan yang indah. Dengan demikian yang harus dipertanyakan dari modernisme adalah konsepnya.
Pada aliran modern classicism ini, aliran Renaissance memiliki pengaruh kuat di dalamnya, aliran moden classicism ini merupakan suatu aliran yang memadukan industrialisasi sebagai ciri utama arsitektur modern dengan arsitektur klasik, yang paling ditonjolkan adalah penggunaan inovasi teknologi pada struktur bangunan.
Dengan diterimanya kembali gagasan akan modern classicism, sekali lagi arsitektur mendapatkan kembali perannya sebagai tradisi yang berkembang. Saat ini ada 5 pendekatan terhadap classicsm antara lain:

1.       IRONIC CLASSICISM.
         Ciri dari aliran ini adalah:
a.     Sebagai pengganti determinisme dari modernisme yang teknologis dan fungsional tanpa mengandung arti.
b.     Elemen-elemen klasik dapat diikutkan dalam arsitektur ini tapi selalu dengan “tanda tanya”.
c.      Elemen-elemen yang berdasarkan sejarah berfungsi sebagai kepura-puraan walaupun berguna.
d.     Dalam usahanya untuk menghibur dapat menyebabkan eksegerasi yang akhirnya menghasilkan bentuk-bentuk yang aneh bahkan berkesan buruk.

2.       LATENT CLASSICISM.
Adapun ciri dari Latent Classicism adalah:
a.      Mengawinkan estetika hasil teknologi dari modernisme dengan prinsip-prinsip komposisional dari classicism.
b.     Walupun menggunakan hirarki komposisional yang ada di dalam classicism, namun latenta classicism tidak menggunakan kosakata formal yang bermuatan simbolis yang ada pada classicism.

3.        FUNDAMENTALIST CLASSICISM.
Adapun ciri dari fundamentalist Classicsm ini adalah:
a.      Berusaha mengurangi bangunan hingga ke bentuk geometris yang paling murni, dalam usahanya untuk mencari kebenaran pokok yang alami.
b.      Menolak penggunaan bahasa yang rumitdari high classicism tidak seperti laten classicism, fundamentalist classicism ini menolak sepenuhnya modernisme.
c.      Fundamentalist mencari classicism yang abadi, ia menolak perbedaan.

4.       CANONIC CLASSICISM.
Adapun ciri dari canonic classicism ini adalah sebagai berikut:
a.      Juga menolak gerakan modernisme secaraa tegas, tetapi canonic gemar akan bahasa tinggi dari classicism dan otoritas masa lampau.
b.      Bagi kaum Canonic classist, seni arsitektur, walaupun terikat pada evolusi budaya, tidak mempunyai kewajiban tertentu untuk berkembang dalam hubungan langsung dengan perubahan–perubahan sosial.

5.       MODERN TRADISIONALISM.
Modern tradisionalism dallah suatu aliran dimana bangunan tradisional dapat terlihat seperti bangunan tradisional, padahal sebenarnya bangunan ini merupakan bagian dari suatu desain, teknologi, memiliki identitas yang estetiik dan momen sejarah.

MENGENAL ARSITEKTUR DEKONSTRUKSI

Arsitektur dekonstruksi merupakan pengembangan dari arsitektur modern. Munculnya arsitektur dekonstruksi sekitar tahun 1988 dalam sebuah diskusi Academy Forum di Tate Gallery, London. Kemudian disusul oleh pameran di Museum of Art, New York dengan tema “Deconstructivist Archiecture” yang diorganisir oleh Philip Johnson dan terdapat tujuh arsitek yang menampilkan karya-karyanya, yaitu; Peter Esienman, Bernard Tschumi, Daneil Libeskind, Frank Gerhy, Zaha Hadid, Rem Koolhaas, dan Coop Himmelblau.
Gejala “Dekon” dalam arsitektur telah menjadi tema perdebatan yang hangat dengan karya-karyanya yang mendobrak aturan-aturan yang berlaku.

Pada 8 April 1988 dalam “international Symposium on Deconstruction” yang diselenggarakan oleh Academy Group di Tate Gallery, dikukuhkan bahwa dekonstruksi bukanlah gerakan yang tunggal atau koheren, meski banyak diwarnai oleh kemiripan – kemiripan formal di antara karya arsitek yang satu dengan yang lainnya. Dekonstruksi tidak memiliki ideologi ataupun tujuan formal, kecuali semangat untuk membongkar kemapaman dan kebakuan.
Aliran dekonstruksi mulanya berkembang di kalangan arsitek Perancis dan Inggris, kemudian oleh Philip Johnson dan Mark Wigley melalui sebuah pameran yang bertema “deconstructivist Architecture” yang di selenggarakan di Museum of Art, New York, tanggal 23 Juni – 30 Agustus 1988 mencetuskan ‘dekonstruktivisme’ yang lebih berkonotasi pragmatis dan formal serta berkembang di Amerika.

Telaah dan pemahaman dekonstruksi memerlukan suatu kesiapan untuk belajar menerima beberapa kemungkinan phenomena. Syarat dari semua ini berdiri di atas keterbukaan dan kesabaran. Keterbukaan membiarkan phenomena berbicara langsung tanpa prekonseosi. Kesabaran memberikan ruang kepada orang untuk mendengar lebih cermat dan seksama.

Deconstruction sebuah konsep Perancis yang diturunkan oleh Jacques Derrida ( lahir 1921) tidak mudah disampaikan sebagaimana pemahaman orang tentang konstruksi, destruksi, dan rekonstruksi. Derrida mengajak semua orang termasuk arsitek untuk merenungkan kembali hakekat sesuatu karya agar berbicara menurut pesona dan kapasitasnya masing –masing. Keseluruhan ini berangkat dari suatu metoda komposisi. Derrida menyebutkannya dalam merajut rangkaian hubungan – hubungan. Dalam tekniknya terdapat beberapa teknik dan terminologi yang perlu klarifikasi di sini. Usaha demikian diharapkan dapat memperjelas hubungan Deconstruction dan Rancang bangunan.
Konsep utama memproduksi atau mengadakan karya bertolak dari konsep yang oleh Derrida pada kasus literatur disebut differance. Dalam rancang bangun konsep ini tidak dapat dipahami sebagai suatu pendekatan yang membuka pemikiran bahwa karya bukanlah semata – mata representasi yang direduksi sebagai alat menyampaikan gagasan atau pesan. Merancang karya diharapkan memberi peluang agar kemungkinannya berbicara bisa merdeka dari prinsip dominasi. Differance memahami setiap komponen bahkan elemen dari komposisi sebagai suatu potensi yang tidak terpisahkan keberadaan, peran dan fungsinya dalam kesemestaan. Artinya mereka tidak hanya sebagai suatu alat untuk menunjuk pada sesuatu gagasan atau ingatan atau nilai tertentu. Diferance memberikan pemahaman baru bagaimana melihat elemen rancangan rancang bangun dalam sebagai batas – batas wilayah yang mengkaitkan : manusia-material-konstruksi-rupa/bentuk dan tempat. Rancang bangunan sebagai suatu keutuhan dan aspek – aspeknya adalah jejak – jejak dari suatu kesemestaan yang mampu berbicara sendiri sebagai pembangun pemahaman dunia. Seperti halnya suatu ‘text’ rancang bangunan marupakan suatu komposisi yang berosilasi di antara hadir dan absen. Dengan osilasi tersebut terjalin suatu yang terputus – putus sebagaimana pemahaman kita sebenarnya akan dunia ini.

Diskontinuitas dan putusnya linearitas menghadirkan permainan dalam setiap komposisi karena apa yang digagas dan dibangun tidaklah berdiri sendiri. Gagasan yang dituangkan dalam komponen komposisi yang sebenarnya dikutip dari rujukan di tempat lain. Bentuk/rupa material-konstruksi-lokasi. Jadi tidak pernah komponen komposisi berdiri sendiri yang lahir dan tercipta dari ruang hampa. Differance mengangkat permasalahan komposisi yang terdiri atas “ citatioans” atau kutipan – kutipan ke dalam suatu komposisi. Dengan komposisi sebenarnya orang melihat dan merasakan suatu representsi pentunjuk yang hadir dengan rujukan yang tidak hadir ( entah di mana ). Komposisi ini memberikan suatu gambaran fragmen – fragmen dari sumbernya yang “mengada” di suatu lokasi dan tampil seolah – olah utuh dan stabil sebagai sosok mandiri. Rujukan gagasan bentuk/rupa misalnya, tidak pernah lepas dari keinginan untuk melayani “kebutuhan” manusia. Atas dasar merujuk pada sumber – sumber tidak hadir itulah sebuah komposisi “meng-ada”. Dengan itu pula apa yang hadir sebenarnya memberikan “jejak” kepada sumber – sembernya. Interprestasi komposisi menurut prinsip differance tidak mungkin dilakukan tanpa membaca atau menelusuru jejak – jejak yang hadir ke sumber – sumber mereka. Hasil dari komposisi yang lahir dengan hadirnya jejak – jejak tersebut oleh Derrida disebut Dissemination.

Deconstruction sebagai upaya atau metoda kritis, tidak hanya berupaya membongkar bangun – bangun teori atau karya lewat elemen, struktur, infrastruktur maupun contextnya. Lebih dari itu, kekuatan – kekuatan yang berperan pada konsep yang bersangkutan akan: dilucuti atribut – atributnya, dikupas habis hingga telanjang bulat, dilacak asal usul dan perkembangannya, dicari kaitan – kaitannya dengan konsep – konsep lain, digelar kemungkinan – kemungkinan posisi maupun kontribusinya terhadap apa saja. Semua proses pembongkaran tersebut dimaksudkan untuk membangun kembali karakteristik phenomenalnya. Dalam pembangunan kembali tersebut, ekspose dari ‘interplay’ kekuatan – kekuatan melalui : kontradiksi – kontradiksi, kesenjangan – kesenjangan, decomposition, disjunction, discontinuity, dan deformation, merupakan cara untuk memperlihatkan kemungkinan – kemungkinan “ada” dan “mengada”. Daya tarik deconstruction bagi dunia rancang bangun terletak di dalam cara melihatnya bahwa ruang dan bentuk adalah tempat kejadian yang selayaknya terbuka bagi yang mungkin dan yang tidak mungkin.
Derrida secara jelas menolak gagasan bahwa penerapan deconstruction akan menjadi semacam “aliran” atau “langgam” baru pada seni bangunan. Tetapi pada kenyataannya adalah tidak bisa dipungkiri bahwa apa yang disebut arsitektur dekonstruksi akan memberikan dan membawa arsitek kepada arah dan gerakan yang baru.(Dari berbagai sumber)

ARSITEKTUR POSMODERN SEBAGAI KOREKSI ARSITEKTUR MODERN

Arsitektur merupakan karya seni yang perkembangannya sejalan dengan perkembangan manusia itu sendiri. Sebut saja sejak zaman Yunani-Romawi sampai zaman sekarang ini, dapat kita lihat perubahannya. Sebuah kasus dapat kita kritisi pada saat munculnya arsitektur modern. Banyak faktor yang memicu kehadiran arsitektur modern pada saat itu. Antara lain; Pasca perang dunia II yang telah mengakibatkan kehancuran bangunan kota, yang harus dibangun kembali dalam tempo yang relative singkat dan efisien; Adanya revolusi industri yang menciptakan industri bahan bangunan serta didukung juga dengan penemuan-penemuan material bangunan seperti bahan beton, baja, kaca dan juga lift.

Pada masa pasca perang dunia II ini, bangunan yang lebih berorientasi fungsional berdiri bagaikan jamur dimusim hujan. Ornament yang banyak ditemui pada arsitektur bangunan klasik tidak lagi dipakai. Untuk itu ada anggapan bahwa arsitektur modern tidak akan eksis untuk jangka waktu lama mengingat terdapat kelemahan-kelemahan pada arsitektur modern, seperti; dianggap kaku dan tidak manusiawi; hilangnya proses desain atau proses seni karena tuntutan produksi sehingga mengesampingkan proses kreativitas; tidak mempunyai nilai tradisional daerah; dan dianggap identik dengan kapitalisme.

Arsitektur modern dibagi dalam 3 masa yaitu:
1)     Modern mula (1890 – 1910)
2)     Modern puncak ( 1920 – 1950)
3)     Modern akhir (1950 – 1960)
Pada masa moderen akhir yaitu pada pertengahan 1960 teori tentang arsitektur baru yang akan menggantikan arsitektur moderen sebenarnya sudah ada. Teori tersebut antara lain dari Robert Venturi dengan bukunya “Complexcity and Contradiction in Architecture” dan dari Aldo Rossi dengan bukunya “ the Architecture of the City”. Oleh karena arsitektur moderen sudah selesai, muncullah arsitektur baru yang dinamakan arsitektur post-moderen. Munculnya arsitektur post-moderen diharapkan dapat menjawab kritikan-kritikan terhadap arsitektur moderen. Dalam karya arsitektur post-moderen antara seni dan ilmu menjadi satu lagi. Arsitektur post-moderen adalah proses komunikasi atau bahasa ,mempunyai makna yang dapat “ menyentuh” kembali sisi manusiawi sebab manusia bukan mesin.
Perbandingan Ciri-ciri antara Arsitektur Modern dan Post-Modern
Ideologi
Modern
Post-modern
  • Satu gaya internasional
  • Berupa khayalan ,idealis
  • Fungsional
  • Arsitek sebagai nabi
  • Elitis untuk setiap manusia
  • Zeitgeit
  • Bersifat menyeluruh, luas
  • Gaya dengan dua makna
  • Bentuk semiotic
  • Tradisi dan pilihan
  • Arsitek sebagai wakil dan aktifis
  • Elitis dan partisipatif
  • Ornamen, klien
  • Sifat berbeda-beda

.

Stylistic
Modern
Post-modern
  • Bersifat lurus ke depan
  • Sederhana
  • Bentuk abstrak
  • Mempertahankan kemurnian
  • Estetika mesin, logika, sirkulasi, teknologi, mekanikal
  • Anti ornamen
  • Anti historis
  • Anti humor
  • Anti simbol
  • Ekspresi campuran
  • Kerumitan
  • Ruang yang berubah-ubah dan dengan kejutan
  • Konvensional dan bentuk abstrak
  • Artikulasi semiotic
  • Bermacam-macam estetika yang berubah berdasarkan keadaan, pengungkapan isi  Pro organik, pemakaian ornamen
  • Pro metaphor
  • Pro simbol
  • Pro referensi historis

.

Ide desain
Modern
Post-modern
  • Kota di taman
  • Pemisahan fungsi
  • “Kulit dan tulang”
  • Volume bukan massa
  • Papan, ujung balok
  • Transparan
  • Keadaan kota dan perbaikan
  • Pencampuran fungsi
  • Arti yang langsung dimengerti
  • Ruang tidak simetris dan perluasan
  • Street building
  • Kedwiartian
  • Cenderung asimetri /simetri
Berdasarkan perbandingan ciri-ciri tersebut dapat terlihat kelemahan-kelemahan arsitektur modern yang nantinya dilengkapi oleh keberadaan arsitektur post-modern.
Charles A.Jencks seorang tokoh arsitektur post-modern berpendapat bahwa arsitektur identik dengan bahasa. Bahasa terdiri dari kata-kata seperti halnya arsitektur terdiri dari unsur-unsur atap, dinding, kolom, dan lain-lain. Oleh karenanya, arsitektur harus komunikatif. Unsur-unsur komunikatif pada bangunan yaitu:
1)     Sintak;
Sintak berarti cara /teknik penyusunan kata-kata hingga bermakna. Begitu pula arsitektur, penyusunan komponen-komponennya dengan tepat akan   menghasilkan karya yang memiliki makna.
2)     Sematik;
Sematik yaitu menentukan gambaran keseluruhan yang tercipta dalam ingatan seseorang saat mendengar rangkaian serangkaian kata atau kalimat yang diucapkan orang lain. Jencks berpendapat sejak dulu masyarakat sudah mempunyai prototype bangunan yang berkaitan dengan penggunaannya.
3)     Metafora;
Methapor ialah suatu kiasan  yang dihasilkan setelah kata-kata dirangkaikan. Dalam arsitektur dapat dijumpai bentuk-bentuk alam yang fungsional diambil sabagai tanda atau simbol tertentu.
Arsitektur sebagai bahasa dengan tujuan kemanusiaan terpenuhi dalam arsitek post-moderen. Arsitektur post-moderen harus hadir  karena arsitektur post-moderen adalah wujud penjelajahan desain yang dibekali kepekaan tinggi terhadap situasi, kondisi masyarakat dan lingkungan.

2 komentar:

  1. Wah hebat banget kamu...
    Review zaman kuliah dulu ya???

    BalasHapus
  2. Hahaha... Tahu aja sampeyan nih...!!!

    BalasHapus